Showing posts with label Geografi. Show all posts
Showing posts with label Geografi. Show all posts

Thursday, November 5, 2020

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #1


 GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #1

Lirik: Ivo, Elizabeth, & Arifin Cover: Kahitna - Cantik Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #2


 GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #2

Lirik: Salsa, Nisa & Sari Cover: Fiersa Besari - Waktu Yang Salah Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #3


 

GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #3 Lirik: Yuli & Aulia Cover: Pikir Keri (Nella Kharisma) Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #4


 

GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #4 Lirik: Salsa & Winda Cover: ENTAH APA YANG MERASUKIMU (SALAH APA AKU) Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #5


GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #5 Lirik: Merry, Kamelia, & Marchella Cover: Harusnya aku - Armada Band Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.
 

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #6 Cover Zaskia Gotik ~ Bang jono


 

GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #6 Lirik: Indah, Dwi & Sukir Cover: Zaskia Gotik ~ Bang jono Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.

GEO IDOL | ♬ BARANG TAMBANG SONG ♬ #7 Cover Fourtwnty - Zona Nyaman



GEO IDOL: BARANG TAMBANG SONG #1 Lirik: Tiara, Cyintia & Hilda Cover: Fourtwnty - Zona Nyaman Salah satu metode supaya siswa bisa lebih mudah dalam mengingat materi belajar: "Membuat Lagu!". Materi tentang 'Persebaran Barang Tambang' cocok dengan metode tersebut. Metode belajar dengan lagu (GEO Idol) Belajar Agar Lebih Seru dan Menyenangkan, ini hasil karya dari anak-anak SMANSABA 2019.

Monday, June 1, 2015

Geografi Regional Myanmar

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Negeri Myanmar terbentuk dari dua unsur struktural yang pokok, yakni sederetan lipatan di sebelah Barat dan sebuah patahan blok massif di sebelah Timur. Kedua bagian ini berjajar dari Utara ke Selatan. Jajaran sebelah Baratmencakup barisan Letha, bukit Chin, dan Pegunungan Arakan YOma, yang diliputi hutan-hutan lebat, terpisah satu sama lain oleh lembah-lembah yang dalam dan panjang dan membentuk batas antara Myamnar, India, dan Bangladesh. Di bagian Barat menjulang Gunung Victoria (3.053).
Iklim
Seperti negara-negara lain di Asia Tenggara, Myanmar juga beriklim trpois. Ada tiga musim yang menonjol di sini, yakni musim hujan (Mei–Oktober) akibat angina musim Barat Daya yang hangat dan lembab, musim kemarau yang sejuk akibat angina musim Barat Laut (November–pertengahan Februari), dan musim kemarau yang panas. Di kebanyakan tempat, lebih dari 80% hujan tahunan terjadi selama musim hujan. Curah hujan di suatu tempat tersebut dari pantai, pada relief, dan pada keterbukaannya akan angina musim Barat Daya uang dating.
Dataran tinggi Mandalay dikenal sebagai Zona Kering, terletak di daerah bayangan hujan Pegunungan Arakan Yoma, jadi menerima hujan kurang dari 750 mm, sedang di Moulmeln (Maulamyaing) dan Tavoy di pantai Tenaserim curah hujan rata-rata 5.000 mm per tahun. Kebanyakan bagian pedalaman, termasuk Plato Shan, menerima hujan 1.300–1.900 mm per tahun.
Di Yangon suhu rata-rata 27° C, tetapi daerah sebelah Utara umumnya lebih dingin. Suhu maksimum terjadi pada bulan April, sedang bulan Desember dan Januari merupakan bulan-bulan terdingin. Di Zona Kering suhu udara kadang-kadang lebih dari 30° C.
Penduduk
Penduduk Myanmar terdiri dari beberapa kelompok etnik. Kelompok terbesar ialah orang Burma turunan Tibet–Burma, yang mewarisi peradaban bangsa-bangsa Pyus dan Mon yang menempati wilayah Irawadi. Dewasa ini orang Burma mencakup sekitar 69% penduduk Myamnar. Kelompok suku lain ialah Shan (8%), Karen (6%), Rakhin (5%), Mon (2%), China (2%), Kachin (1%), dan lain-lain (6%).
Kebanyakan orang Myanmar tinggal di desa dan terpusat di sekitar kuil-kuil Budha. Kota-kota terbesarnya ialah Yangon, Mandalay, dan Moulmein.
Penduduk Myanmar yang mengaut agama Budha tercatat sekitar 89%. Ajaran Budha ini sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Lebih dari 78% penduduk sudah dapat membaca dan menulis, tetapi hanya sekitar 66% yang dapat berbicara dalam bahasa Burma resmi. Selain bahasa Burma juga dipakai bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa kedua, walaupun bahasa Burma tetap digunakan sebagai bahasa pengantar.
 Pemerintahan
Pada tahun 1962 kudeta militer mengakhiri demokrasi parlementer di Myanmar dan selanjutnya pemerintah dipegang sebuah Dewan Revolusioner di bawah pimpinan Ne Win. Tahun 1972 diumumkan sebuah rencana undang-undang yang memungkinkan pemerintahan sipil dan beralih ke sistem sosialis. Partai yang berkuasa, Burma Socialist Program Party (BSSP), diketuai Ne Win. Tahun 1976 terjadi percobaan kudeta tetapi gagal. Pada tahun 1988, pemerintahan jatuh ke tangan Dewan militer melalui sebuah kudeta. Hasil pemilu multipartai 1990, yang dimenangkan oleh oposisi, tidak diakui oleh pemerintah militer.
Ekonomi
Pertanian, aktivitas ekonomi terpenting di Myanmar, memberikan lebih dari sepertiga GNP-nya. Kira-kira 15% dari seluruh lahan ditanami dan kira-kira 65% penduduk tergantung pada usaha pertanian.
Cara-cara bertani di Myanmar tergantung pada keadaan setempat. Pertanian dengan sistem tebang baker masih banyak dilakukan oleh penduduk di daerah pegunungan atau dataran tinggi, system tadah hujan banyak dilakukan di daerah-daerah kering, sementara sistem tanam sawah tergantung pada turunnya hujan. Para petani di bagian-bagian delta yang tinggi biasanya mengairi sawah mereka, tetapui yang di bagian lain tergantung pada luapan air yang muncul secara teratur setiap tahun. Di daerah tropis Tenasserim tanaman ekspor seperti karet diusahakan di tanah-tanah perkebunan.
Tanaman pangan yang utama di Myanmar ialah padi. Lebih dari 50% lahan pertanian terdapat di daerah-daerah delta. Sebelum Perang Dunia II Myanmar menkspor 3 juta ton beras setiap tahun. Beras tetap merupakan komoditas utama walaupun belakangan ini jumlahnya berkurang. Tanaman lain, the (di Plato Shan), tembakau (di bagian Utara), tebu (di lembah Sungai Sittang), dan bermacam-macam sayuran (di daerah pantai Arakan). Tanah di Zona Kering banyak diolah untuk tanaman gandum, jagung, kapas, wijen, dan lain-lain.
Untuk meningkatkan produksi beras pemerintah berusaha membantu petani dengan berbagai cara seperti mengadakan land reform, menaikkan harga beras (semua beras harus dijual kepada pemerintah), dan memperkenalkan varietas padi unggul. Penipisan hara akibat system monokultur ditanggulangi dengan pemberian pupuk kimia. Sementara itu, mekanisasi telah mengalami kemajuan, walaupun lebih banyak pemakai ternak dibandingkan dengan pemakai traktor.
Lebih dari 49% daratan Myanmar tertutup oleh hutan, tetapi banyak di antaranya yang belum diolah karena transportasi belu memadai. Jenis kayu yang paliung penting di sisin ialah jati dan kayu besi (pyinkado), kayu gelondongan diangkut ke tepi sungai dengan menggunakan gajah terlatih dan selanjutnya dihanyutkan ke pabrik penggergajian. Tiap tahun hutan Myanmar menghasilkan kayyu jati lebih dari 300.000 ton dan kayu keras kira-kira 1 juta ton dengan 30.000 tenaga kerja.
Ikan termasuk bahan makanan penting bagi orang Myanmar. Ikan diperoleh terutama dari kolam-kolam ikan yang ada di sekitar Yangon. Di Mauhin dan Hanthawaddy sudah ada pusat penelitian ikan sedangkan di Mergul dush didirkan sekolah perikanan.
Walaupun Myanmar kaya akan mineral, kekayaan itu baru sedikit yang dioalh. Ladang minyak di Chauk dan Yenagyaung dulu menjadi korban Perang Dunia II, tetapi kini sudah dibangun kembali. Di Syriam terdapat sebuah pabrik penyulingan minyak bumi. Di Chauk terdapat endapan gas alam.
Timah dan fungsten ditambang di Tenasserim, sedang antimony digali di Plato Shan. Selain itu masih ada jenis mineral lain, seperti seng, merkuri, dan batu bara.
Industri terutama terdiri dari industri pengolahan hasil pertanian, hasil hutan, dan mineral. Sejak Myanmar merdeka, pemerintah mengusahakan pabrik pengolahan barang-barang kebutuhan dalam negeri yang sebelumnya diimpor. Pabrik pupuk, misalnya, telah dibangun di Sale di Kynchaung. Hampir semua usaha perindustrian dikendalikan oleh pemerintah, sedang perusahaan swasta dan perusahaan asing sudah tidak ada.
Angkutan sungai masih banyak dipakai di Myanmar. Sungai Irawadi dapat dilayari sampai ke Myitkyina, Sungai Chindwin sampai sejauh 650 km. Sungai Sittang dan Sungai Irawadi dihubungkan oleh terusan sepanjang 100 km. Selain angkutan sungai, jalan darat juga terus dikembangkan walaupun sebagian besar belum diaspal. Jaringan jalan kereta api terutama menghubungkan Yangon dengan Pye (Prome), Mandalay, dan Myitkina. Pelabuhan Yangon mempunyai peranan besar dalam perdagangan luar negeri. Kota pelabuhan lain, Moulmein, baru dalam tahap pengembangan. Yangon juga berfungsi penting sebagai pelabuhan udara internasional di samping sebagai jalur penghubung dengan kota-kota penting di Myanmar.

Beras, kayu, barang-barang logam diekspor antara lain ke Singapura, Indonesia, dan Belanda. Barang-barang impor penting, antara lain mesin-mesin, alat-alat angkutan, barang-barang logam, kertas, pupuk, dan obat-obatan, dibeli dari beberapa Negara, terutama dari Jepang, Jerman, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.        

Geografi Regional Timor Leste

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Timor Timur terletak antara 123°-17°BT dan 8°-10°LS. Sebagian besar wilayah Timor Timur merupakan daerah pegunungan. Deretan pegunungan yang membujur dari Barat ke Timur itu kadang-kadang terputus-putus. Dengan demikian, terbentuklah lembah-lembah dan jurang-jurang yang curam serta dalam.
Dataran rendahnya terdapat di sepanjang pantai Utara maupun Selatan. Dataran rendah pantai Utaranya terbentang di kedua kabupatennya, yaitu kabupaten Manatuto dan kabupaten Baukau. Luas dataran rendah ini diperkirakan mencapai 80.000 ha. Sedangkan dataran rendah pantai Selatannya terbentang dari daerah perbatasan dengan Propinsi Nusa Tenggara Timur (Timor Barat) sampai ujung Timur (Selatan Yako), luas luas dataran daerah ini diperkirakan mencapai 150.000 ha.
Selain itu terdapat pula dataran rendah dan dataran tinggi di pedalaman serta dataran di daerah aliran sungainya. Dataran di pedalaman tersebut terutama terdapat di Kabupaten Laulem. Luasnya diperkirakan mencapai 15.000 ha.
Keadaan tanah di propinsi ini kebanyakan berupa endapan kapur dan tanah liat. Jenis tanahnya adalah litosol, podsolik, regosol, dan aluvial. Tanah ilosol terdapat di bagian Tengah dan Timur wilayah propinsi ini. Tanah podsolik terdapat di bagian Selatan. Tanah regosol terdapat di bagian Selatan Kabupaten Lautem. Tanah aluvialnya terdapat di sepanjang pantai Utara dan Selatan, di dataran Kabupaten Bobonaro, di bagian Timur dari dataran Kabupaten Lautem.
Gunung
Di daerah pegunungan yang merupakan tulang punggung Timor Timur terdapat puncak-puncak pegunungan yang tinggi. Puncak-puncak yang tingginya lebih dari 2.000 m adalah Gunung Hatupai (2.293 m), dan Gunung Lakulo (2.050 m) di Kabupaten Ermera, Gunung Tatomallau (2.963 m), Gunung Sabiria (2.495 m) dan Gunung Usululi (2.620 m) di Kabupaten Alnaro.
Sungai
Sekitar 75 sungai terdapat di daerah ini. Sebagian besar sungai-sungai itu kering pada musim kemarau. Sungai-sungai yang bermata air di daerah pegunungan yang ada di bagian Tengah wilayah ini sebagian mengalir ke Utara dan bermuara ke Selat Ombai di antaranya Sungai Tono, Sungai Bulobo, Sungai Lois, Sungai Malibaka, Sungai Marobo, Sungai Nunura, dan Sungai Gleno. Sungai yang mengalir ke Utara dan bermuara ke Selat Wetar antara lin adalah Sungai Laklo, Sungai Lalela. Sungai yang mengalir ke Selatan dan bermuara ke Laut Timor adalah Sungai Tafara, Sungai Belukik, Sungai Dilor.
Danau dan Pulau
Daerah ini hanya memiliki sebuah danau yaitu Danau Surubel. Letaknya di ujung TImur wilayah ini dan termasuk Kabupaten Lautem. Selain wilayah daratan utamanya di Pulau Timor, Timor Timur juga memiliki wilayah kepulauan. Di antara pulau-pulau kecil yang termasuk wilayahnya adalah Pulau Atauro, Pulau Yako.
Iklim
Timor Timur beriklim tropis. Musim hujan mulai dari bulan November dan berakhir pada bulan April, sedangkan musim kemarau mulai dari bulan Mei dan berakhir pada bulan September. Meskipun demikian, terdapat pula beberapa perbedaan di antara pantai Utara dan pantai Selatan. Misalnya, di pantai Utara musim kemarau baru mulai pada bulan Juni, sedangkan di pantai Selatan musim hujan baru mulai pada bulan Desember, dan dari bulan Juni sampai Agustus juga berulang kali turun hujan. Selain dua musim utamanya, terdapat pula musim pancaroba, yang terjadi pada bulan Mei dan Oktober.
Curah hujan rata-ratanya rendah, yaitu sekitar 1.200–1.500 mm setahun. Jumlah hari hujannya mencapai sekitar 80–90 hari setahun. Suhu minimal berkisar antara 18°-21°C, sedangkan suhu maksimal berkisar antara 26°-32° C.
Flora dan Fauna
Kurang dari separuh wilayah ini tertutup oleh hutan. Dari hutan seluas 699.822 ha itu terdapat hutan suaka alam seluas 25.000 ha dan hutan wisata seluas 13.850 ha. Di hutan-hutan ini tumbuh berbagai jenis tanaman. Umumnya, yang tumbuh di daeerah pegunungan lebih bervariasi daripada di dataran rendah. Di pantai Utara terdapat hutan bakau yang lebat, sedangkan di pantai Selatan terdapat pohon lontar dan pohon kelapa yang tumbuh subur. Di hutan-hutan itu juga hidup sejumlah binatang liar. Binatang itu antara lain rusa, kera, musang, berbagai jenis serangga, nuri, kakaktua.
Penduduk
Pada tahun 1980, jumlah penduduk mencapai 555.000 jiwa. Kepadatan penduduk 38/km2. Pada tahun 1990, angka-angka ini mengalami perubahan. Jumlah penduduknya telah mencapai 748.000 jiwa dengan kepadatan penduduk 51/km2.
Suku Bangsa
Timor Timur didiami oleh beberapa suku bangsa di antaranya Tetun, Timor, Belu, Galo, Tokode, Bunak dan Kemak. Selain itu, terdapat pula orang-orang keturunan Eropa, China, Arab, dan India.
Agama
Hampir seluruh penduduk daerah ini beragama Kristen (94%) yang terdiri dari Katolik (91,4%) dan Protestan (2,6%). Yang lainnya adalah pemeluk agama Islam (1,7%), Hindu (0,3%) dan lain-lain (4%). Agama Katolik dibawa ke Timor Timur oleh para misionaris pada awal abad ke 16, bersamaan dengan masuknya bangsa Portugia.
Ekonomi
Andalan utama ekspor Timor Timur adalah kopi. Volumenya dapat mencapai lebih dari 90% ekspor tahunan Timor Timur. Meskipun demikian sector-sektor perekonomian lainnya juga mendapat perhatian cukup besar. Hal ini harus dilakukan karena kekuatan yang hanya berpijak pada satu komoditi dapat fatal akibatnya. Sektor-sektor itu adalah pertanian, perkebunan, kehutanan, Industri, pertambangan, perhubungan, dan pariwisata.
Pertanian
Tanaman pangan di daerah ini pada pokoknya dapat dibagi dua, yaitu padi dan palawija. Luas areal padi di wilayah ini mencapai 20.000 ha dengan produksi sekitar 5.000 ton per tahun. Luas area palawija mencapai 78.000 ha dengan produksi sekitar 220.000 ton per tahun.
Perkebunan
Komoditi perkebunan terpenting di Timor Timur adalah kopi. Tanaman kopi sudah dikenal di sini sejak zaman Portugis. Kopi Timor Timur pernah dikenal dengan nama Hibrida de Timor, termasuk salah satu jenis kopi terbaik di dunia. Produksi kopi di daerah ini sempat merosot ketika terjadi perang saudara yang mengakibatkan perkebunan kecil terabaikan karena keadaan keamanan tidak menjamin. Namun pada tahun-tahun berikutnya sector perkebunan mengalami kemajuan.
Kini areal perkebunan yangh paling luas adalah kelapa sekitar 50.000 ha dengan produksi sekitar 9.000 ton per tahun. Tanaman perkebunan lainnya adalah kopi seluas 50.000 ha, kemiri 4.000 ha, kayu manis 2.250 ha, kapuk 10.000 ha, dan pinang 36.600 ha.
Kehutanan
Timor Timur mempunyai areal hutan sekitar 700.000 ha. Hutan lindung seluas 435.000 ha, hutan produksi seluas 170.000 ha, hutan suaka alam 25.000 ha. Hasil utama dari sector kehutanan ini adalah kayu cendana, kayu putih, kayu merah.
 Peternakan
Daerah ini sangat potensial untuk pengembangan usaha peternakan secara besar-besaran. Padang rumput yang luas da[pat dijumpai di beberapa kabupaten seperti Ambenu, Bobonaro, Kovalima, Lautem. Secara keseluruhan areal padang rumputnya mencapai luas 394.503 ha. Jenis ternak yang ada yaitu sapi, kerbau, kuda, babi, kambing, domba, unggas.
Pertambangan
Menurut hasil penelitian peninggalan Portugis, barang tambang yang ada di Timor Timur meliputi minyak dan gas bumi, emas, mangan. Barang tambang lainnya yang berupa batuan adalah batu pasir dan serpih..
Industri

Kegiatan industri kebanyakan menyangkut pengolahan hasil pertanian dan barang kerajinan. Masalah utama yang dihadapi Timor Timur dalam mengembangkan industrinya yang baru adalah kurangnya tenaga terampikl dan langkanya modal.

Geografi Regional Laos

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Negara ini terdiri dari 4 kesatuan geografis yang utama, barisan pegunungan lipatan yang membujur dari Utara ke Selatan, lereng Barat Pegunungan Annam, Plato Bolovens, dan daerah lembah Sungai Mekong. Barisan pegunungan lipatan itu memiliki plato-plato yang terpotong-potong di Utara. Permukaannya kasar. Gunung phou Bia (2.820 m), puncak tertinggi di Laos terletak di daerah ini. Satu-satunya daerah yang agak rata adalah daerah Plato Xiangkhoang. Batu-batuan granit berbentuk kristal umum dijumpai di lereng-lereng Barat Pegunungan Annam, sedang barisan Pegunungan Batu Kapur menciptakan pemandangan alam yang khas, terutama di Laos Tengah. Plato Bolovens (1.500 m) di Selatan merupakan batu-batuan basalt. Lembah Sungai Mekong, yang sangat penting untuk pemukiman di Laos memiliki kantong-kantong lembah kecil, tapi hanya di tempat pertemuan anak-anak sungai dengan sungai yang lebih besar. Anak-anak sungai utama adalah Nam Ou, Nam Ngum, Nam Kading, dan Banghing. Sungai Mekong mengaliri seluruh Laos, hanya Propinsi Houphan dan sebagian Propinsi Xiangkhoang yang terletak di luar lembah Sungai Mekong dan dialiri oleh Sungai Nam Neun dan Sungai Nam Chu, yang selanjutnya mengalir melalui Vietnam sebelum bermuara ke Teluk Tonkin. Laos beriklim tropis dengan suhu rata-rata tahunan 26° C. Kebanyakan daerah menerima curah hujan 1.500 – 2.500 mm/tahun.
   Laos memiliki 3 musim:
1.      Musim hujan yang panas (Juni – Oktober)
2.      Musim kemarau yang sejuk (November – Februari)
3.      Musim pancaroba yang kering dan panas (Maret – Mei)
Dua pertiga lebih wilayah Laos tertutup oleh hutan subtropik. Daerah yang tinggi di Utara didominasi pohon-pohon pegunungan, sedang lereng-lereng yang lebih rendah di selatan didominasi oleh tumbuhan berdaun lebar yang senantiasa berganti daun. Di daerah-daerah yang kering, hutan berubah menjadi sabana dan padang rumput. Banyak hutan yang sudah hancur karena penduduk berpindah-pindah ladang.
Penduduk
Negeri ini mencakup wilayah seluas 236.000 km2 dengan penduduk 4.409.000. Penduduk Negara ini tergolong sangat jarang.
Sebagian besar (81%) penduduk negeri ini tinggal di pedesaan. Desa-desa umumnya berada di tengah sawah penduduk. Kota-kotanya sedikit dan kecil. Ibu kotanya Vientiane hanya berpenduduk 180.000 orang.
Bahasa resmi Negara ini adalah bahasa Lao yang mirip dengan bahasa orang Thailand. Banyak juga penduduk yang menggunakan bahasa Prancis. Para rahib Budha menggunakan bahasa Pali.
Dari 80% penduduk yang berusia di atas 15 tahun, hanya 80% bebas buta huruf. Penduduk Laos terdiri dari beberapa kelompok, yaitu orang Lao yang hidup di tanah rendah dan tepi sungai, orang Tai yang hidup di tanah tinggi, orang Mon-Khmer tersebar di seluruh Laos dan orang Meo dan Yao yang diperkirakan datang dari China Selatan pada akhir abad ke-18.
 Ekonomi
Pertanian merupakan kegiatan ekonomi utama di Laos dan mampu menyerap 72% tenaga kerja, namun Negara ini masih mengimpor beras dari Negara lain. Laos banyak mengekspor kayu ke negara-negara lain.
Perikanan tak memiliki arti komersial. Pusat-pusat penangkapan ikan terpenting adalah Vientiane, Pakxan, Savannakhet, Thakthet, dan Houayxay.
Laos sebenarnya kaya akan barang tambang, namun eksplorasinya masih jauh dari sempurna. Barang tambangnya antara lin timah, bijih besi, tembaga, batu bara, dan timah hitam.
Industri yang terorganisasi masih terbatas pada pabrik penggergajian kayu, semen, dan barang-barang konsumsi.
Sungai Mekong merupakan sarana transportasi utama di Laos walaupun arusnya deras dan sungainya dangkal. Laos tak memiliki jalan kereta api. Jalan rayanya sepanjang 27.000 km, tapi baru sepertiga yang telah diaspal. Kota-kota utama di Laos memiliki hubungan udara yang dilayani oleh perusahaan penerbangan Lao Airline.

Laos selalu mengalami ketidakstabilan politik selama beberapa tahun terakhir. Nilai impor Laos lebih besar 4 kali dari nilai ekspornya. Selama bertahun-tahun negeri ini mengalami ketidakstabilan politik dan pertikaian dalam negeri, maka 60% pendapatan nasional digunakan untuk pembangunan hankam. Akibatnya, Negara ini tak bisa membangun kerangka dasar.

Geografi Regional Kamboja

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Kampuchea memiliki wilayah seluas 181.916 km, atau kira-kira seluas Pulau Sulawesi. Secara fisik, negeri ini menyerupai pining. Di bagian tengah terletak Dataran Besar Tonle Sap, bagian pinggirnya terbentuk oleh sejumlah pegunungan, Pegunungan Dong Rak *Phanon Dang Reh) di Utara, Pegunungan Cardamon di Barat, plato Rotanokiril, dan plato Mondol Kiri di Timur. Barisan pegunungan ini memiliki ketinggian 750 – 900 m. Gunung Phnum Aoral (1.771 m) di Pegunungan Cardamon merupakan puncak tertinggi di Kampuchea.
Danau Tonle Sap memiliki ciri-ciri geografis yang luas biasa. Air danau ini dialirkan oleh Sungai Tonic Sap, anak Sungai Mekong, yang biasanya meluap antara bulan Mei dan bulan Oktober. Dalam bulan-bulan ini, cabang-cabang Sungai Mekong di Vietnam bagian Selatan tidak mampu mengatasi luapan air dari daerah yang dilaluinya. Akibatnya, luapan air tersebut kembali ke Sungai Bassac dan Sungai Tonle Sap, hingga membanjiri daerah di sekitar danau. Pada puncaknya, banjir ini mampu melipatgandakan luas permukaan danau dari 3.000 km2 menjadi 10.000 km2 lebih. Gejala itu benar-benar penting artinya bagi perikanan darat Kampuchea.
Daerah pantai sepanjang 560 km di sepanjang Teluk Siam merupakan tanah berbatu-batu dan memiliki beberapa pulau lepas pantai yang kecil. Teluk Kampong Saom memiliki salah satu pelabuhan alam yang paling baik di Asia Tenggara dan menjadi satu-satunya pelabuhan berair dalam di republik ini. Dataran pantainya sebagian besar sempit dan terpotong-potong oleh Pegunungan Gajah (Pegunungan Elephant), yang membujur kea rah pantai.
Iklim
Kampuchea mengalami iklim tropis dengan musim kemarau pada bulan November – Mei, ketika negeri ini berada di bawah pengaruh angina musim Timur Laut. Dalam bulan Januari sebagian besar daerahnya menerima curah hujan kurang dari 50 mm. Dalam bulan-bulan selebihnya (Juni – Oktober), angina bertiup dari Laut. Banyaknya curah hujan tahunan di setiap tempat ditentukan oleh terbukanya daerah tersebut pada tiupan angina musim Barat Daya. Dengan demikian, Pegunungan Gajah dan Pegunungan Cardamon dapat menerima curh hujan sampai 3.050 mm per tahun. Sementara Dataran Besar Tonle Sap, yang terletak di daerah bayangan hujan, menerima curah hujan kurang dari 1.525 mm per tahun. Semakin ke Timur, semakin abertambah curah hujan tahunan secara keseluruhan, sementara ketinggian tanahnya juga terus bertambah. Plato-plato dapat menerima curah hujan sampai 2.540 mm per tahun.
Suhu rata-rata per tahun untuk sebagian besar wilayah Kampuchea mencapai sekitar 27° C dan pergeseran angka suhu jarang melebihi 8° C. Bulan Desember biasanya merupakan bulan paling dingin. Sementara musim kemarau terus berjalan, suhu meningkat sampai memuncak pada akhir bulan Mei.
 Flora dan Fauna
Tidak meratanya curah hujan tercermin dalam variasi tumbuh-tumbuhan alam di negeri ini. Di plato dan pegunungan yang memiliki curah hujan tinggi, terdapat hutan tropis yang hijau sepanjang tahun. Di daerah-daerah rendah yang lebih kering, hutan ini tiba-tiba berganti daun dan sabana yang di sana-sini ditumbuhi pepohonan. Di Battambang Barat Laut terdapat sabana yang di sana-sini ditumbuhi rerumputan, sementara bakau tumbuh di sepanjang pantai dan bamboo tumbuh di daerah-daerah yang lebih kering. Dataran aluvium Kampuchea memiliki berbagai tanaman, di antaranaya kelapa, karet, jeruk, kapuk, pisang, lath, tembakau, kapas, tebu, nila, dan sayur-sayuran.
Kehidupan binatang liar mencakup gajah, banteng, harimau, harimau kumbang, macan tutul, beruang, dan binatang buruan kecil. Burung yang paling lazim dijumpai adalah blekok, jejang, belibis, juao, merak, pelican, pecuk padi, kuntul, dan itik liar.
Penduduk
Penduduk negeri ini tergolong paling muda di dunia, 66% berada di bawah umur 30 tahun dan hanya sekitar 4% yang berumur lebih dari 60 tahun. Meskipun angka kematian cukup tinggi (diperkirakan mencapai 17,6 per 1.000 penduduk), laju pertambahan penduduk mencapai 1,9 persen per tahun.
Kepadatan penduduknya rendah (kira-kira 49/km2), kecuali di sepanjang jalur lalu lintas air, bahkan daerah-daerah yang sebenarnya dapat dibudidayakan sangat kekurangan penduduk. Kota terbesar, yaitu Ibu Kota Phnom Penh, diperkirakan hanya berpenduduk sekitar 800.000 jiwa.
Kelompok Etnik
Kelompok etnik utama di Kampuchea adalah orang Khmer, yang mencakup 94% penduduk negeri ini dengan mata pencaharian utama bertani. Tetapi bangsa Khmer modern sebenarnya merupakan keturunan berbagai ras yang sudah berbaur satu sama lain selama berabad-abad, bahkan sebelum nenek moyang mereka berpindah ke delta Mekong yang subur (Plato Korat, sekarang termasuk wilayah Thailand) sebelum tahun 200 SM. Masuknya orang India, yang berlangsung dalam beberapa gelombang pada awal Tarikh Masehi, menimbulkan Indianisasi bangsa Khmer. Dalam abad ke-8, bangsa Khmer diserbu orang Melayu (Jawa). Serbuan ini kemudian disusul oleh kedatangan orang Thai (dari abad ke-10 hingga abad ke-15), orang Vietnam (mulai dari abad ke-17), dan orang China (dalam abad ke-17 dan ke-19). Akibat pembauran, ciri-ciri fisik orang Khmer sangat bervariasi.
Selain kelompok mayoritas Khmer, di negeri ini terdapat kelompok minoritas China dan Vietnam. Orang China terutama hidup di kota sebagai pengusaha, sedang orang Vietnam umumnya bekerja sebagai buruh perkebunan karet, nelayan, tukang, atau pedagang.
Penduduk lain terutama terdiri dari beberapa kelompok etnik Asia lain, termasuk kelompok Melayu Cham (di Kampuchea dikenal sebagai orang Khmer Islam) dan suku-suku bangsa primitive yakni orang Khmer Loeu (disebut juga orang Khmer gunung), yang terdiri dari orang Jaral Rhade, Stieng, Kui, Pear, dan Saoch.
Pembauran antara orang Khmer dan Orang China telah berlangsung secara luas. Sedang perkawinan campuran dengan orang Vietnam jauh lebih sedikit akibat ketidak percayaan orang Khmer kepada kelompok tersebut, yang sudah berurat-berakar di kalangan mereka secara turun-temurun. Dengan orang Melayu Cham, pembauran mengalami hembatan karena kelompok ini mempertahankan agama Islam sementara kelompok etnik mayoritas Khmer umumnya beragama Budha.
Bahasa
Bahasa resmi dan bahasa yang paling lazim di Kampuchea adalah bahasa Khmer. Bahasa ini di samping agama dan tradisi orang Khmer, mengikat orang Khmer menjadi satu bangsa dan membuat Kampuchea menjadi Negara, yang boleh dikatakan stabil sebelum tahun-tahun peperangan.
Agama
Agama utama di Kampuchea adalah agama Budha Theravada, yang berasal dari India dan pernah manjadi agama resmi di Kampuchea. Ajaran agama ini telah begitu meresap dalam kehidupan orang Kampuchea.
Meskipun adat-istiadat, yang mengharuskan semua lelaki di negeri ini untuk masuk biara selama jangka waktu tertentu, sekarang sudah terdesak akibat perkembangan pendidikan sekuler. Di negeri ini terdapat puluhan ribu biarawan Budha yang hiduip dalam ribuan wat (kuil). Dua decade lalu, agama Budha dilarang oleh pemerintah Khmer Merah, tetapi rezim Heng Smrin yang berkuasa sejak akhir tahun 1978, konon telah memulihkannya. Di negeri ini sekitar 88% rakyat masih menganut agama Budha.
 Ekonomi
Ekonomi negeri ini bertumpu pada sector pertanian. Sektor ini menyerap sekitar 70% dan seluruh tenaga kerja, kendati tanah yang dibudidayakan hanya mencakup sekitar 17% dari seluruh wilayahnya.
Pertanian di Kampuchea didominasi oleh pertanian padi. Sebagian besar penduduk pedesaan hidup bertanam padi. Tanaman ini yang merupakan bahan pangan utama penduduk Negara ini, dibudidayakan terutama di daerah sepanjang Sungai Mekong dan di sekitar Danau Tonle Sap. Hingga tahun 1970 – an hasil pertanian negara ini mampu mencukupi kebutuhan penduduknya, bahkan sebagian diekspor ke negara lain, tetapi akhir-akhir ini hasil padi seluruhnya (kira-kira 2,4 juta ton per tahun) mengalami penurunan. Para petani sulit mendapatkan pupuk, bibit unggul, dan obat hama padi. Lagi pula, kemarau panjang sering terjadi di negeri ini. Sementara itu, sarana irigasi yang telah berhasil dibangun, banyak yang hancur atau terlantar karena perang. Akibatnya, Kampuchea yang dulu mampu mengekspor beras, kini justru harus bergantung pada bantuan pangan luar negeri (sekitar 150.000 ton per tahun). Menghadapi kekurangan pangan di negeri ini ratusan penduduk mengungsi ke Thailand atau tinggal menunggu bantuan pangan yang disalurkan badan PBB dan organisasi internasional lainnya.
Plato-plato bertanah basal di propinsi Kampong Cham dan propinsi Rotanokinli sebenarnya sangat cocok untuk pembudidayaan karet. Dulu Kampuchea termasuk Negara penghasil karet terbesar di dunia. Tetapi kini produksinya sudah jauh menurun. Pada tahun 1990, misalnya negeri ini hanya mampu menghasilkan sekitar 29.000 ton. Komoditas pertanian lain yang dihasilkan dalam jumlah terbatas, antara lain umbi-umbian, jagung, buncis, dan tembakau.
Kampuchea tidak memiliki industri besar. Dari sejumlah industri kecil yang ada di negeri ini hanya beberapa jenis yang pantas disebut, yakni industri semen, industri daging, industri kayu, dan industri rokok. Perang yang berkepanjangan menghancurkan perindustrian negeri ini. Kurangnya tenaga kerja yang terampil, bahan mentah industri, dan suku cadang, menyebabkan produksi pabrik-pabrik pemerintah jauh di bawah kapasitas yang sebenarnya. Sementara itu, situasi dalam negeri yang belum pulih akibat perang itu menyebabkan Negara-negara dan para investor asing dengan menanamkan modal di negeri ini.
Akibat peperangan itu juga, Kampuchea menderita deficit perdagangan yang luas biasa besarnya. Nilai impornya lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspornya.

Lalu lintas air di daerah pedalaman Kampuchea merupakan tambahan yang sangat penting bagi jalan raya negeri ini yang panjangnya mencapai 14.000 km lebih, namun baru sekitar 18% yang sudah diaspal. Jalan kereta api, dengan panjang sekitar 650 km, menghubungkan Phnom Penh dengan Poipet di daerah perbatasan Thailand dan dengan Kampong Saom. Bandar udara Pochentong (dekat Phnom Penh) dapat didarati pesawat jet. Perusahaan penerbangan nasionalnya melayani hubungan udara dengan Hongkong dan berbagai kota di Asia Tenggara.

Sunday, May 31, 2015

Geografi Regonal Vietnam

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Wilayah Vietnam dapat dilukiskan sebagai “dua keranjang padi beserta pikulannya”. Pikulannya adalah barisan Pegunungan Annam, yang membujur di sepanjang Semenanjung Indocina, sedangkan kedua keranjang padinya adalah delta Sungai Songka (Sungai Merah) di Utara dan delta Sungai Mekong di Selatan.
Di sebelah Utara, tanah Vietnam bergunung-gunung. Tanah tinggi Tonkin Timur sebagian besar mencapai ketinggian lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut, dilalui oleh Sungai Songcay, Sungai Songgam, dan Sungai Songcau. Pegunungan Tonkin Barat, yang dilalui Sungai Songda (Sungai Hitam), merupakan pegunungan yang paling tinggi dan paling kasar di semenanjung ini. Gunung Fan-Si-Pan, puncak tertinggi di Vietnam, mencapai ketinggian 3.143 m. Sebaliknya, delta Sungai Songka merupakan dataran rendah yang subur, berpenduduk padat, dan sering mengalami banjir.
Ke arah Tenggara membujur barisan Pegunungan Annam, dengan puncak-puncaknya Gunung Ngoc Linh (2.598 m), Gunung Chu Yang Sin (2.408 m), dan puncak-puncak lain yang tingginya lebih dari 2.300 m. Pegunungan ini kemudian menjadi dataran pantai berpenduduk padat. Sedangkan di sebelah Selatan terdapat delta Sungai Mekong, yang serupa dengan delta Sungai Songka di sebelah Utara tetapi lebih jauh lebih luas dan tidak terlalu padat penduduknya. Kawasan datar dan subur ini mencakup wilayah seluas 37.800 km2.
Iklim
Vietnam beriklim tropis. Sebagian besar wilayah negeri ini menerima curah hujan lebih dari 1.500 mm per tahun, sedangkan Pegunungan Tonkin Barat, bersama-sama dengan bagian Tengah dan bagian Selatan Pegunungan Annam, menerima hujan lebih dari 4.000 mm per tahun. Dalam musim panas (musim hujan), daerah-daerah pantai menerima hujan kira-kira 130 mm per bulan, dan daerah-daerah pedalaman menerima jauh lebih 610 mm per bulan, dalam musim dingin, daerah-daerah pantai yang terbuka terhadap tiupan angin musim Barat Laut dapat menerima 250 mm dalam bulan Januari. Curah hujan tambahan paling banyak terdapat di Utara 12°LU akibat tiupan angina topan tropis selama musim gugur.
Suhu udara pada musim panas umumnya tinggi (rata-rata 30°C di Selatan dan 29°C di Utara), meskipun daerah pegunungan mengalami variasi sesuai dengan ketinggiannya. Pergeseran suhu di musim dingin berkisar dari 10°C di Utara yang bergunung-gunung sampai 27°C di Selatan.
 Flora dan Fauna
Hutan tropis hijau sepanjang tahun, menonjol terutama di daerah tinggi, sedangkan di daerah yang kering biasanya terdapat hutan yang aditumbuhi pohon berganti daun atau padang rumput yang ditumbuhi pepohonan sana-sini. Kehidupan bertani secara berpindah-pindah telah banyak mengakibatkan hutan di pedalaman menjadi padang rumput.
Delta Sungai Mekong memiliki daerah berawa-rawa yang sangat luas dan tidak dapat dikeringkan, termasuk Daerah Buluh (Plain or Reeds), yang mencakup wilayah seluas 2.600 km2. Hutan bakau terdapat di daerah pantai dekat Mong-Cai dan di delta-delta yang ada di bagian Selatan negeri ini.
Tanah di daratan rendah sebagian besar berupa tanah aluvium dan cukuip kaya akan humus, kecuali di daerah-daerah yang lebih tinggi. Tanah yang disebut terra rouge (tanah merah) di sebelah Utara Ho Chi Minh City (Saigon) terkenal akan berbagai macam tanaman perkebunan.
Di antara binatang liarnya ada harimau, harimau kumbang, banteng, babi hutan, berbagai jenis burung buruan kecil, kera, berbagai jenis ular, kura-kura, dan hewan pengerat (termasuk tikus yang memiliki ukuran sebesar kucing).
Penduduk
Penduduk Vietnam terpusat di kawasan delta Sungai Songka dan Sungai Mekong. Ditinjau dari sudut kelompok etnik, penduduk Vietnam sangat beragam. Kelompok terbesar adalah orang Vietnam. Kelompok minoritas terdiri dari beberapa kelompok pendatang dan penduduk “asli”. Kelompok pendatang terbesar adalah orang dari China, orang Thai, dan orang Khmer, sedangkan apenduduk “asli” terdiri dari 37 kelompok suku, di antaranya yang terbesar adalah orang Champa dan Montagnard (orang gunung), yang diperkirakan searah dengan nenek moyang orang Indonesia, mendiami Vietnam Tengah. Sedangkan orang Tay, Muong, Nung, dan penduduk asli lainnya di Utara, semua menetap di pegunungan yang terdapat di antara lembah Sungai Songka dan perbatasan dengan RRC dan Laos.
Bahasa resmi di negeri ini adalah bahasa Vietnam (salah satu cabang bahasa Mon-Khmer [rumpun Austro-Asia]), yang dapat dibedakan atas tiga macam dialek yang sedikit berbeda satu sama lain (dialek Utara, Tengah, dan Selatan). Namun selain itu, terdapat juga beragam bahasa yang digunakan kelompok minoritas. Orang Montagnard, misalnya menggunakan kira-kira 20 bahasa.
Kebanyakan orang Vietnam menganut agama Budha. Sejumlah penduduk menganut agama Katolik (sekitar 7%) dan Islam (sekitar 1%). Penganut aliran Cha Dao (campuran Budha, Tao, Kong Hu Cu, dan Kristen) dan aliran Hoa Hao (Budha murni) sudah banyak berkurang.
Pendidikan sudah tergolong maju di Vietnam. Dari seluruh penduduk berusia 15 tahun ke atas, sekitar 88% sudah bebas dari buta huruf. Di samping sekolah-sekolah umum (dibagi atas tingkat dasar, tingkat menengah, dan tingkat tinggi), terdapat banyak sekolah kejuruan. Vietnam memiliki sekitar seratus perguruan tinggi, di antaranya yang terbesar adalah universitas Ho Chi-Minh City.
Ekonomi
Negara ini mengandalkan perekonomiannya pada sektor pertanian. Pertanian dapat menyerap kira-kira 73% tenaga kerja. Di Utara terdapat perusahaan pertanian Negara dan koperasi pertanian, sedang di Selatan juga dilakukan reorganisasi sesuai dengan garis-garis yang serupa bersama-sama dengan program deurbanisasi secara besar-besaran. Padi sebagai tanaman utama ditanam di kedua delta utamanya dan sepanjang dataran pantai. Usaha keras terus dijalankan untuk memperluas irigasi serta meningkatkan hasil padi. Tanaman-tanaman lain meliputi buah-buahan, kacang, sayur-sayuran, ubi jalar, singkong, jagung, tebu, teh, dan kopi. Hasil ternak, terutama kerbau, sapi, babi, dan unggas terus meningkat.
Vietnam memiliki kira-kira 13,2 juta ha hutan, yang terdiri dari hutan jati, kayu hitam, kayu merah, dan berbagai jenis kayu keras lainnya. Dari sektor perhutanan ini juga diperoleh kayu manis, bamboo, kina, dan lain-lain.
Sektor perikanan juga menjadi salah satu tumpuan perekonomian Vietnam. Perikanan terutama dipusatkan di Teluk Tonkin dan daerah penangkapan ikan di Laut China Selatan. Jenis ikan yang ditangkap antara lain udang dan cumi-cumi. Kolam, danau, sungai, terusan, dan tempat-tempat lain (termasuk sawah), juga dapat memberikan hasil tangkapan ikan air tawar dalam jumlah besar.

Di Quang Yen, 32 km di Utara sebelah Hanoi, terdapat endapan antrasit yang terbesar di Asia Tenggara. Bersama-sama dengan endapan lain di Phan Me dan Tuyen-quang, cadangan seluruhnya mencapai kira-kira 20 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor dalam jumlah besar. Di Nong Son (di Utara Da Nang) terdapat sedikit endapan batu bara. Bijih besi ditambang dan diolah di Thai-Nguyen (di Utara Hanoi) dan juga di daerah Selatan (Thanh Hoa, Vinh, dan Ha-Tinh). Barang tambang lain yang penting termasuk fosfat (di Cao Cai), timah (di Tinh Tuc), antimony (di Mong-Cai), graft (di Lao Kay), dan emas (di Bong-Mieu).

Geografi Regional Brunei Darussalam

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Sebagian besar wilayah Brunei Darussalam terdiri dari dataran. Bagian pantai berupa rawa-rawa dengan hutan bakau, tetapi makin jauh ke pedalaman tanah makin berbukit-bukit dengan ketinggian kurang dari 100 m. Di perbatasan dengan Sarawak terdapat daerah berbukit-bukit dengan ketinggian di atas 300 m.
   Brunei Darussalam bagian Timur lebih tinggi daripada bagian Barat. Di ujung Selatan daerah Temburong terdapat sebuah bukit bernama Bukit Pagon (1.850 m). Di Brunei Darussalam Barat terdapat tiga sungai yang besar, yakni Sungai Belait, Sungai Tutong, dan Sungai Brunei. Sungai terpanjang adalah Sungai Belait dan yang terpendek adalah Sungai Brunei. Brunei Darussalam beriklim tropis. Suhu rata-rata 24°-31° C. Daerah pantai dan dataran rendah menerima hujan sebanyak 2.500 mm per tahun, sedang di daerah berbukit-bukit di Selatan curah hujan tercatat sebanyak 4.000 mm per tahun. Musim hujan jatuh pada bulan November-Mei dan musim kemarau pada bulan Juni-Agustus.
Kira-kira 20% hutan Negara ini sudah ditebangi untuk pertanian. Tetapi masih ada sekitar 43% wilayah yang tertutup hutan basah tropis dengan berbagai jenis kayu keras. Di sepanjang pantai tumbuh pohon Casuarina yang digunakan sebagai tanaman pelindung, sedang di daratan yang tidak banyak mendapat pengairan terdapat hutan jati dan hutan bakau.
 Penduduk
Pada tahun 1981 jumlah penduduk Brunei Darussalam tercatat sebanyak 200.000 jiwa, enam tahun kemudian menjadi 232.600, dan saat ini naik menjadi 268.000. Pertambahan ini terutama disebabkan oleh banyaknya pendatang yang bekerja di perusahaan minyak negara ini.
Sebagian besar penduduk tinggal di kota, terutama Ibu Kota Bandar Seri Begawan, Seria, dan Kuala Belait, yang lain mendiami lembah-lembah di sepanjang sungai.
Mayoritas penduduk merupakan suku Melayu dan “Para Melayu” (Melanau, Kedayan, Bisayah, Beluit, dan Bukit), penduduk asli, yang mencakup suku Daya Barat, Iban, Murut, Kelabit, dan Dusun, hanya sedikit. Komposisi kelompok etnik tercatat sebagai berikut: Melayu (69%), China (18%), penduduk pribumi lain (5%), dan selebihnya kelompok etnik lain. Hampir dua pertiga dari seluruh penduduk menganut agama Islam, agama resmi di negeri ini. Kelompok agama minoritas yang terbesar adalah Budha dan Kristen.
Brunei Darussalam tergolong Negara makmur. Kegiatan social berkembang dengan baik. Untuk mereka yang cukup umur, cacat, dan sakit disediakan dana khusus. Pelayanan medis menggunakan “Dokter-Terbang” dan “Apotik-Keliling” untuk memberikan pelayanan sampai ke desa-desa.
Lebih dari 85% penduduk yan berusia 15 tahun ke atas sudah bebas dari buta aksara. Pada tingkat dasar dan menengah, pendidikan diberikan dalam bahasa Melayu (bahasa resmi), Inggris, dan China. Pendidikan dasar dibebaskan dari biaya. Bagi anak-anak sekolah dari daerah terpencil diberikan pondokan dan transport gratis. Perguruan tinggi pertama di negeri ini, yaitu Universitas Brunei Darussalam, didirkan pada tahun 1985.
Ekonomi
Ekonomi Brunei Darussalam bertumpu pada ekspor hasil minyak bumi. Dari ekspor per tahun, Brunei Darussalam berhasil mengumpulkan pemasukan Negara sebesar kira-kira Br$ 6,5 milyar (minyak mentah 54%, gas alam 43%, ekstrasi minyak 1,5%, dan lain-lain 1,5%). Ladang minyak terbesar terdapat di Seria dan lepas pantai Kuala Belait, Ampar dan Jerudong. Sebagian besar minyak mentah disalurkan melalui pipa ke pabrik penyulingan di Miri dan Lutong (Sarawak). Hasilnya di ekspor ke berbagai Negara, di antaranya Jepang, Thailand, Singapura, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Hasil pertanian kebanyakan digunakan untuk konsumsi dalam negeri, begitu pula hasil perikanan dan peternakan. Tanaman terutama di Brunei Darussalam adalah padi, tetapi tidak sedikit penduduk yang menanam jagung, kelapa, dan sagu. Industri belum begitu berkembang. Oleh sebab itu, barang-barang seperti tekstil, mesin-mesin pertanian, alat transportasi dan bahan-bahan pangan harus diimpor, antara lain dari Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Thailand, Australia, dan Taiwan.

Saturday, May 30, 2015

Geografi Regional Filipina

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Filipina terdiri dari rangkaian ribuan pulau besar dan kecil (sekitar 7.100 pulau). Tetapi dari semua pulau itu hanya sekitar 880 yang berpenduduk. Pulau-pulau terbesar di antaranya adalah Pulau Luzon, Pulau Mindanao, Pulau Samar, Pulau Negros, Pulau Palawan, Pulau Panay, Pulau Mindoro, Pulau Leyte, Pulau Cebu, dan Pulau Bohol.
Pulau-pulau itu biasanya dikelompokkan menjadi 4 kelompok:
1.      Pulau Luzon
2.      Kepulauan Visayan
3.      Kepulauan Mindanao
4.      Kepulauan Palawan dan Sulu
Di bagian Timur rangkaian pulau tersebut terdapat Palung Mindanao (Palung Filipina), salah satu laut terdalam di dunia (sekitar 11.500 m).
Di Filipina banyak terdapat pegunungan, sebagian besar di antaranya berjajar searah dengan kepulauan tersebut, yang dalam peta tampak seperti kapak besar. Di Pulau Luzon, Pegunungan Cordillera Central, tampak sebagai tulang punggung pulau itu dan terdiri dari dua-tiga jajaran yang parallel dengan ketinggian rata-rata 1.650 m. Barisan Sierra Madre memanjang di pantai Timur Laut (panjang 560 km dan lebar 15 – 50 km). Di propinsi Nueva Vizcaya, Pegunungan Cordillera Central dan Pegunungan Sierra Madre membentang bersama-sama dan membentuk Pegunungan Caraballo. Pegunungan Ilocos memanjang di daerah pantai Barat Laut dengan ketinggian kadang-kadang labih dari 1.525 m. Di bagian Barat daya terdapat Pegunungan Zambales, yang memuncak di High Peak (2.037 m).
Pulau-pulau lain juga bergunung-gunung. Di Pulau Mindanao menonjol Pegunungan Diuata yang membujur sepanjang sepanjang pantai Timur, seakan-akan terjepit di antara daerah pantai di Timur dan lembah Sungai Agusan yang subur di Barat. Di Selatan Sungai Mindanao menjulang Gunung Apo (2.954 m), sebuah gunung api aktif dan tertinggi di Filipina.
Selain itu masih banyak gunung berapi lain di negeri ini. Misalnya, Gunung Mayon (2.421 m), dan Gunung Taal yang terletak di tengah Danau Taal yang mungkin merupakan gunung berapi terendah di dunia.
Hanya ada beberapa dataran rendah yang tergolong luas dio negeri ini. Dataran di daerah pantainya tidak ada yang mempunyai lebar lebih dari 3 km. Di daerah pegunungan terdapat beberapa dataran tinggi, dataran Cagayai dan Bihon (di Luzon), lembah Sungai Agusan, dan Sungai Mindanao (di Mindanao).
Sungai utama di negeri ini adalah Sungai Cagayan (344 km), Sungai Agno, Sungai Pampanga (di Pulau Luzon), Sungan Agusan, dan Sungai Mindanao (di Mindanao), Sungai Pasig, yang mengalir lewat kota Manila dapat dilayari kapal kecil dan cukup penting perdagangan.
Iklim
Ikim di Filipina dipengaruhi oleh ciri pulau-pulaunya, posisinya di daerah tropis, barisan reliefnya, angina yang bertiup, dan ketinggian tiap daerah. Pengaruh garis balik hanya sedikit, bisa dikatakan, Zamboanga di Selatan dan Aparri di Utara mempunyai iklim yang sama. Barisan pegunungan sangat mempengaruhi iklim setempat, sedangkan laut mempengaruhi iklim pulau-pulau kecil.
Hujan turun secara tetap di semua daerah berkisar dari 1.275 mm hingga 4.550 mm per tahun. Biasanya bagian Barat lebih banyak menerima hujan dari angina musim Barat daya (2.150 – 2.550 mm per tahun). Angin topan menambah hujan di bagian Timur (Oktober – November). Setiap tahun antara bulan Juni dan Desember, Filipina dilanda angin topan yang hebat. Wilayah yang sering dilanda topan adalah wilayah pantai Timur. Bagian pedalaman Pulau Luzon, Pulau Mindanao, dan Kepulauan Visayan menerima hujan 1.650-1.900 mm per tahun (kebanyakan dalam bulan Juni-September). Sedangkan Pulau Bohol, bagian Timur Pulau Leyte, dan bagian tengah Pulau Mindanao menerima 1.900-2.150 mm per tahun.
Flora dan Fauna
Sebagian hutan Filipina sudah dibabat untuk peratanian. Sebagian lagi habis dibakar dan digantikan oleh alang-alang. Tetapi lebih dari 40% daratan negeri ini masih tertutup hutan terutama di kawasan pegunungan.
Kebanyakan vegetasi negeri ini sejenis dengan vegetasi Kalimantan. Hutannya ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon berkayu keras maupun lunak, termasuk mahoni dan pinus. Tumbuhan paku mencapai ribuan jenis. Kelapa dan bakau banyak tumbuh di tepi pantai.
Hutan Filipina didiami oleh berbagai hewan liar. Berdasarkan penemuan fosil, ditemukan bahwa gajah pernah ada di negeri ini. Mamalia lain yang masih hidup antara lain rusa, anoa, monyet, trenggiling, lemur, kancil, dan luwak. Di antara reptilian terdapat buaya, kura-kura, dan berbagai jenis ular.
Penduduk
Filipina berpenduduk sekitar 6.609.000 jiwa. Daerah yang paling padat penduduknya adalah daerah yang subur dan yang paling intensif dibudidayakan, yakni daerah Pulau Ilocos, bagian tengah Pulau Luzon, Pulau Cebu, Pulau Negros, dan Pulau Panay. Sedangkan daerah yang paling jarang penduduknya adalah daerah pantai Timur Laut Pulau Luzon, bagian Selatan dan pedalaman Mindanao, Pulau Palawan, nagian Barat Pulau Mindoro.
Jumlah penduduk Filipina berkembang dengan pesat. Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk, pemerintah menggalakan program Keluarga Berencana. Untuk menghadapi ledakan penduduk, pemerintah mendorong petani untuk meningkatkan produksi bahan makanan dan mendesak para pengusaha untuk memperluas lapangan kerja.
Mayoritas penduduk Filipina adalah keturunan Melayu yang dating dari Malaysia dan Indonesia. Sebagian kecil penduduk termasuk kelompok etnik China, Mestizo (campuran orang Melayu dan Spanyol), Negrito (keturunan penduduk asli).
Bahasa resmi di Filipina adalah Pilipino, yang didasarkan pada bahasa Tagalog, salah satu dialek Melayu. Bahasa daerah yang digunakan penduduk adalah bahasa Tagalog, Cebuano, Ilocano, Ilongo. Sebagian besar orang Filipina menggunakan bahasa Inggris, bahkan Filipina merupakan negara pemakai bahasa Inggris terbesar ke-3 di dunia. Tetapi bahasa Pilipino lambat laun menggantikan bahasa Inggris di sekolah-sekolah dan siaran radio. Bahasa Arab juga diajarkan di daerah Islam.
Filipina merupakan satu-satunya Negara di Asia yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen. Lebih dari 93% rakyatnya beragama Kristen.
Kira-kira 89% rakyat Filipina sudah bebas dari buta aksara. Pendidikan dasar diberikan secara gratis dan diwajibkan. Perguruan tinggi terbesar adalah Universitas Filipina dan Universitas St. Thomas.
Ekonomi
Pertanian merupakan tumpuan ekonomi Filipina. Sebab, selain mampu menyerap tenaga kerja sebesar 40%. Hasilnya pun hampir memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk, kendati dari seluruh wilayahnya baru 27% yang dibudidayakan.
Hutannya yang mencakup sekitar 36% dari seluruh wilayah Filipina, ditumbuhi berbagai jenis pohon yang bernilai tinggi untuk perdagangan, di antaranya pohon banian, bedar, eboni, pinus, dan mahoni. Bambu, yang dapat tumbuh di seluruh negeri ini digunakan untuk berbagai kebutuhan penduduk, misalnya untuk bahan bangunan dan perabotan rumah.
Hasil terpenting dari sektor perikanan berasal dari penangkapan di lepas pantai. Wilayah penangkapannya yang utama adalah di Mindoro, Kepulauan Sulu, dan Samboanga.
Sektor perindustrian juga merupakan tumpuan harapan Filipina sebab kendati hanya menyerap 9% tenaga kerja, dapat menyumbang sekitar 25% pendapatan Negara. Hasil utama sektor ini adalah bahan pangan, pupuk, mesin elektronik, batu bara dan minyak, sepatu dan tekstil, serta tembakau.
Dulu, pertambangan merupakan sektor ekonomi terpenting di Filipina. Namun, kini sektor itu hanya menyumbang 2% dari seluruh pendapatan nasional Filipina dan hanya mampu menyerap 1% tenaga kerja. Hasilnya antara lain batu kapur, krom, tembaga, perak, dan emas. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan lokal, Filipina mengimpor minyak mentah, mesin-mesin, gandum, dan lain-lain. Sebaliknya negeri ini mengekspor peralatan elektronik, kopra, kain, buah-buahan, sayur mayor, gula, hasil hutan, dan produk mineral.


Geografi Regional Singapura

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Singapura terletak di selatan Semenanjung Malaka dan terdiri dari sejumlah pulau. Di samping pulau utama (Pulau Singapura), terdapat sekitar 50 pulau kecil Pulau Singapura berukuran panjang 41,8 km dan lebar 22,9 km. Pulau-pulau lainnya jauh lebih kecil dan sekitar separo di antaranya tidak begitu berarti, yang terbesar adalah Pulau Tekong Besar (17,9 km2), Pulau Ubin (10,1 km2), Pulau Sentosa (3,5 km2), dan Pulau Ayer Chawan (2,2 km2). Kepulauan ini terpisah dari Semenanjung Malaka oleh Selat Johor, namun Pulau Singapura dihubungkan dengan tanah semenanjung itu oleh jalan raya, jalan kereta api, dan saluran pipa sepanjang 1,5 km.
            Pulau Singapura berbentuk sebuah ketupat. Tanahnya rendah dan bergelombang, dengan beberapa bukit di sebelah Barat Laut dan daerah berawa-rawa di sebelah Barat Daya. Sungai-sungai kecil dan pendek mengalir dari daerah perbukitan ke pantai, kecuali di sebelah Selatan. Di sebelah selatan, Singapura memiliki pelabuhan alam yang terlindung oleh dua pulau lepas pantai.
            Singapura terletak kira-kira 130 km di Utara garis khatulistiwa. Suhu rata-rata tercatat 26° C, dengan pergeseran hanya sekitar 1,4° C. Meskipun demikian negeri ini mengalami tiga musim yang berbeda satu sama lain, musim hujan yang sejuk (November–Maret) mempunyai hubungan dengan angin musim Timur Laut, musim kemarau yang panas (April–September) mempunyai hubungan dengan angin musim Barat Daya, musim pancaroba (September – November) diwarnai oleh perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak. Curah hujan rata-rata 2.500 mm per tahun. Hujan paling lebat rurun dalam bulan Desember dan paling jarang dalam bulan Agustus. Kelembaban nisbi sangat tinggi (sekitar 80%) sepanjang tahun.
Tumbuhan alami Singapura, yang dulu terdiri dari hutan tropis dan hutan bakau, sekarang sudah habis dibuka untuk perluasan kota, industri atau pertanian. Kini hutan di negeri ini tinggal sekitar 5 persen dari seluruh wilayahnya. Sejumlah tumbuhan khas yang sangat indah masih dapat dijumpai di kedua cagar alamnya (Catchment Area Reserve dan Pandan Nature Reserve).
Penduduk   
Singapura merupakan salah satu negara terpadat di dunia (4.370/km2), mengingat luasnya hanya sekitar 622 km2, karena wilayahnya begitu terbatas, daratannya terus diperluas dengan menimbuni tepi pantai. Pantai Seraya, misalnya diperluas sampai 1,9 km2 pada tahun 1979 dengan menggabungkannya dengan Pantai Sebunus Dalam dan Pantai Sebunus Luar. Antara tahun 1966 dan 1977 saja tanah reklamasi mencapai 1.165 ha.
Pemukiman penduduk dipusatkan di kompleks apartemen yang menjulang tinggi. Semua kota satelit baru dibangun sebagai suatu kota yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri tidak jauh dari pusat pemukiman penduduk dibangun sekolah, pusat perbelanjaan, tempat oleh raga, pusat hiburan, dan taman rekreasi. Perumahan rakyat ini dikelola oleh Badan Pembangunan dan Perumahan Singapura.
 Kelompok Etnik dan Bahas
Tidak kurang dari 77% penduduknya adalah orang China. Orang Melayu hanya sekitar 15%. Sisanya adalah orang India (7%, termasuk orang Sri Lanka) serta orang Eropa (termasuk orang Eurasia) dan lain-lain (1%).
Pemerintah Singapura bertekad untuk menggunakan berbagai bahasa untuk kepentingan semua warganya, dengan memelihara toleransi dan sikap menghormati pihak lain sebagai landasan bagi identitas rakyat Singapura. Bahasa Inggris Melayu, Mandarin, dan Tamil, semuanya mendapat kedudukan resmi dan derajat yang sama. Semakin banyak penduduk yang mampu berbahasa Inggris karena pemerintah menganjurkan orang tua murid untuk memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Agama
Kong Hu Cu, Budha, Tao, agama Kristen, semuanya memiliki pemeluk di kalangan orang China Singapura. Orang Melayu umumnya menganut agama Islam. Orang India, Sri Lanka, dan Pakistan kebanyakan menganut agama hindu atau Islam. Sedangkan orang Eropa, Eurasia, dan lain-lain, kebanyakan beragama Kristen.
Ekonomi
Perdagangan merupakan salah satu tumpuan perekonomian Singapura. Sektor ini merupakan suatu kekuatan luar biasa, hanya dalam tempo beberapa dekade, perdagangan telah berhasil mengubah Singapura dari desa nelayan menjadi sebuah Negara makmur. Dengan perdagangan bebasnya, Singapura berdagang dengan hampir semua Negara di dunia. Lokasinya strategis dan keadaan ekonomi politiknya stabil, semuanya itu mendorong para pengusaha dari berbagai Negara untuk memilih Singapura sebagai pusat distribusi berbagai produk atau pangkalan operasi pelayanan ke negara-negara lain. Transportasi dan jaringan komunikasi yang memadai, perbankan, pergudangan, dan pelayanan asuransi, semua menyokong pengembangan perdagangan di negara ini.
Tanah di Singapura sangat sempit dan sumber daya alamnya sangat terbatas. Tanah pertaniannya sangat terbatas, hanya kira-kira 3% dari tanahnya yang digunakan untuk pertanian. Walaupun demikian, Singapura mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri akan telur ayam sebesar 100%, daging babi 95%, unggas 70%, ikan 25%, dan sayur mayor 25%.
Singapura mampu menghasilkan sejumlah kebutuhan dalam negeri akan makanan segar melalui perkebunan intensif. Pertanian tradisional, yakni pertanian campuran berskala kecil, sudah ditinggalkan karena dianggap tidak ekonomis dan tidak praktis. Kini perkebunan sudah diorganisasikan atas unit-unit khusus yang dipacu untuk bersaing.

Dengan mengintensifkan perkebunan-perkebunan, jumlah perkebunan menjadi berkurang. Untuk mampu menjaga sampai bahan makanan segar sendiri, 3.300 ha. Lebih dari daratannya dikhususkan untuk perkebunan permanent. Beberapa proyek komersial telah ditetapkan untuk daerah ini meliputi peternakan babi, perkebunan hidroponik, perkebunan jamur, anggrek dan bunga lainnya, pusat ekspor ikan dan tempat pengembang biakan ikan.