Monday, June 1, 2015

Geografi Regional Myanmar

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Negeri Myanmar terbentuk dari dua unsur struktural yang pokok, yakni sederetan lipatan di sebelah Barat dan sebuah patahan blok massif di sebelah Timur. Kedua bagian ini berjajar dari Utara ke Selatan. Jajaran sebelah Baratmencakup barisan Letha, bukit Chin, dan Pegunungan Arakan YOma, yang diliputi hutan-hutan lebat, terpisah satu sama lain oleh lembah-lembah yang dalam dan panjang dan membentuk batas antara Myamnar, India, dan Bangladesh. Di bagian Barat menjulang Gunung Victoria (3.053).
Iklim
Seperti negara-negara lain di Asia Tenggara, Myanmar juga beriklim trpois. Ada tiga musim yang menonjol di sini, yakni musim hujan (Mei–Oktober) akibat angina musim Barat Daya yang hangat dan lembab, musim kemarau yang sejuk akibat angina musim Barat Laut (November–pertengahan Februari), dan musim kemarau yang panas. Di kebanyakan tempat, lebih dari 80% hujan tahunan terjadi selama musim hujan. Curah hujan di suatu tempat tersebut dari pantai, pada relief, dan pada keterbukaannya akan angina musim Barat Daya uang dating.
Dataran tinggi Mandalay dikenal sebagai Zona Kering, terletak di daerah bayangan hujan Pegunungan Arakan Yoma, jadi menerima hujan kurang dari 750 mm, sedang di Moulmeln (Maulamyaing) dan Tavoy di pantai Tenaserim curah hujan rata-rata 5.000 mm per tahun. Kebanyakan bagian pedalaman, termasuk Plato Shan, menerima hujan 1.300–1.900 mm per tahun.
Di Yangon suhu rata-rata 27° C, tetapi daerah sebelah Utara umumnya lebih dingin. Suhu maksimum terjadi pada bulan April, sedang bulan Desember dan Januari merupakan bulan-bulan terdingin. Di Zona Kering suhu udara kadang-kadang lebih dari 30° C.
Penduduk
Penduduk Myanmar terdiri dari beberapa kelompok etnik. Kelompok terbesar ialah orang Burma turunan Tibet–Burma, yang mewarisi peradaban bangsa-bangsa Pyus dan Mon yang menempati wilayah Irawadi. Dewasa ini orang Burma mencakup sekitar 69% penduduk Myamnar. Kelompok suku lain ialah Shan (8%), Karen (6%), Rakhin (5%), Mon (2%), China (2%), Kachin (1%), dan lain-lain (6%).
Kebanyakan orang Myanmar tinggal di desa dan terpusat di sekitar kuil-kuil Budha. Kota-kota terbesarnya ialah Yangon, Mandalay, dan Moulmein.
Penduduk Myanmar yang mengaut agama Budha tercatat sekitar 89%. Ajaran Budha ini sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Lebih dari 78% penduduk sudah dapat membaca dan menulis, tetapi hanya sekitar 66% yang dapat berbicara dalam bahasa Burma resmi. Selain bahasa Burma juga dipakai bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa kedua, walaupun bahasa Burma tetap digunakan sebagai bahasa pengantar.
 Pemerintahan
Pada tahun 1962 kudeta militer mengakhiri demokrasi parlementer di Myanmar dan selanjutnya pemerintah dipegang sebuah Dewan Revolusioner di bawah pimpinan Ne Win. Tahun 1972 diumumkan sebuah rencana undang-undang yang memungkinkan pemerintahan sipil dan beralih ke sistem sosialis. Partai yang berkuasa, Burma Socialist Program Party (BSSP), diketuai Ne Win. Tahun 1976 terjadi percobaan kudeta tetapi gagal. Pada tahun 1988, pemerintahan jatuh ke tangan Dewan militer melalui sebuah kudeta. Hasil pemilu multipartai 1990, yang dimenangkan oleh oposisi, tidak diakui oleh pemerintah militer.
Ekonomi
Pertanian, aktivitas ekonomi terpenting di Myanmar, memberikan lebih dari sepertiga GNP-nya. Kira-kira 15% dari seluruh lahan ditanami dan kira-kira 65% penduduk tergantung pada usaha pertanian.
Cara-cara bertani di Myanmar tergantung pada keadaan setempat. Pertanian dengan sistem tebang baker masih banyak dilakukan oleh penduduk di daerah pegunungan atau dataran tinggi, system tadah hujan banyak dilakukan di daerah-daerah kering, sementara sistem tanam sawah tergantung pada turunnya hujan. Para petani di bagian-bagian delta yang tinggi biasanya mengairi sawah mereka, tetapui yang di bagian lain tergantung pada luapan air yang muncul secara teratur setiap tahun. Di daerah tropis Tenasserim tanaman ekspor seperti karet diusahakan di tanah-tanah perkebunan.
Tanaman pangan yang utama di Myanmar ialah padi. Lebih dari 50% lahan pertanian terdapat di daerah-daerah delta. Sebelum Perang Dunia II Myanmar menkspor 3 juta ton beras setiap tahun. Beras tetap merupakan komoditas utama walaupun belakangan ini jumlahnya berkurang. Tanaman lain, the (di Plato Shan), tembakau (di bagian Utara), tebu (di lembah Sungai Sittang), dan bermacam-macam sayuran (di daerah pantai Arakan). Tanah di Zona Kering banyak diolah untuk tanaman gandum, jagung, kapas, wijen, dan lain-lain.
Untuk meningkatkan produksi beras pemerintah berusaha membantu petani dengan berbagai cara seperti mengadakan land reform, menaikkan harga beras (semua beras harus dijual kepada pemerintah), dan memperkenalkan varietas padi unggul. Penipisan hara akibat system monokultur ditanggulangi dengan pemberian pupuk kimia. Sementara itu, mekanisasi telah mengalami kemajuan, walaupun lebih banyak pemakai ternak dibandingkan dengan pemakai traktor.
Lebih dari 49% daratan Myanmar tertutup oleh hutan, tetapi banyak di antaranya yang belum diolah karena transportasi belu memadai. Jenis kayu yang paliung penting di sisin ialah jati dan kayu besi (pyinkado), kayu gelondongan diangkut ke tepi sungai dengan menggunakan gajah terlatih dan selanjutnya dihanyutkan ke pabrik penggergajian. Tiap tahun hutan Myanmar menghasilkan kayyu jati lebih dari 300.000 ton dan kayu keras kira-kira 1 juta ton dengan 30.000 tenaga kerja.
Ikan termasuk bahan makanan penting bagi orang Myanmar. Ikan diperoleh terutama dari kolam-kolam ikan yang ada di sekitar Yangon. Di Mauhin dan Hanthawaddy sudah ada pusat penelitian ikan sedangkan di Mergul dush didirkan sekolah perikanan.
Walaupun Myanmar kaya akan mineral, kekayaan itu baru sedikit yang dioalh. Ladang minyak di Chauk dan Yenagyaung dulu menjadi korban Perang Dunia II, tetapi kini sudah dibangun kembali. Di Syriam terdapat sebuah pabrik penyulingan minyak bumi. Di Chauk terdapat endapan gas alam.
Timah dan fungsten ditambang di Tenasserim, sedang antimony digali di Plato Shan. Selain itu masih ada jenis mineral lain, seperti seng, merkuri, dan batu bara.
Industri terutama terdiri dari industri pengolahan hasil pertanian, hasil hutan, dan mineral. Sejak Myanmar merdeka, pemerintah mengusahakan pabrik pengolahan barang-barang kebutuhan dalam negeri yang sebelumnya diimpor. Pabrik pupuk, misalnya, telah dibangun di Sale di Kynchaung. Hampir semua usaha perindustrian dikendalikan oleh pemerintah, sedang perusahaan swasta dan perusahaan asing sudah tidak ada.
Angkutan sungai masih banyak dipakai di Myanmar. Sungai Irawadi dapat dilayari sampai ke Myitkyina, Sungai Chindwin sampai sejauh 650 km. Sungai Sittang dan Sungai Irawadi dihubungkan oleh terusan sepanjang 100 km. Selain angkutan sungai, jalan darat juga terus dikembangkan walaupun sebagian besar belum diaspal. Jaringan jalan kereta api terutama menghubungkan Yangon dengan Pye (Prome), Mandalay, dan Myitkina. Pelabuhan Yangon mempunyai peranan besar dalam perdagangan luar negeri. Kota pelabuhan lain, Moulmein, baru dalam tahap pengembangan. Yangon juga berfungsi penting sebagai pelabuhan udara internasional di samping sebagai jalur penghubung dengan kota-kota penting di Myanmar.

Beras, kayu, barang-barang logam diekspor antara lain ke Singapura, Indonesia, dan Belanda. Barang-barang impor penting, antara lain mesin-mesin, alat-alat angkutan, barang-barang logam, kertas, pupuk, dan obat-obatan, dibeli dari beberapa Negara, terutama dari Jepang, Jerman, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.        

Geografi Regional Timor Leste

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Timor Timur terletak antara 123°-17°BT dan 8°-10°LS. Sebagian besar wilayah Timor Timur merupakan daerah pegunungan. Deretan pegunungan yang membujur dari Barat ke Timur itu kadang-kadang terputus-putus. Dengan demikian, terbentuklah lembah-lembah dan jurang-jurang yang curam serta dalam.
Dataran rendahnya terdapat di sepanjang pantai Utara maupun Selatan. Dataran rendah pantai Utaranya terbentang di kedua kabupatennya, yaitu kabupaten Manatuto dan kabupaten Baukau. Luas dataran rendah ini diperkirakan mencapai 80.000 ha. Sedangkan dataran rendah pantai Selatannya terbentang dari daerah perbatasan dengan Propinsi Nusa Tenggara Timur (Timor Barat) sampai ujung Timur (Selatan Yako), luas luas dataran daerah ini diperkirakan mencapai 150.000 ha.
Selain itu terdapat pula dataran rendah dan dataran tinggi di pedalaman serta dataran di daerah aliran sungainya. Dataran di pedalaman tersebut terutama terdapat di Kabupaten Laulem. Luasnya diperkirakan mencapai 15.000 ha.
Keadaan tanah di propinsi ini kebanyakan berupa endapan kapur dan tanah liat. Jenis tanahnya adalah litosol, podsolik, regosol, dan aluvial. Tanah ilosol terdapat di bagian Tengah dan Timur wilayah propinsi ini. Tanah podsolik terdapat di bagian Selatan. Tanah regosol terdapat di bagian Selatan Kabupaten Lautem. Tanah aluvialnya terdapat di sepanjang pantai Utara dan Selatan, di dataran Kabupaten Bobonaro, di bagian Timur dari dataran Kabupaten Lautem.
Gunung
Di daerah pegunungan yang merupakan tulang punggung Timor Timur terdapat puncak-puncak pegunungan yang tinggi. Puncak-puncak yang tingginya lebih dari 2.000 m adalah Gunung Hatupai (2.293 m), dan Gunung Lakulo (2.050 m) di Kabupaten Ermera, Gunung Tatomallau (2.963 m), Gunung Sabiria (2.495 m) dan Gunung Usululi (2.620 m) di Kabupaten Alnaro.
Sungai
Sekitar 75 sungai terdapat di daerah ini. Sebagian besar sungai-sungai itu kering pada musim kemarau. Sungai-sungai yang bermata air di daerah pegunungan yang ada di bagian Tengah wilayah ini sebagian mengalir ke Utara dan bermuara ke Selat Ombai di antaranya Sungai Tono, Sungai Bulobo, Sungai Lois, Sungai Malibaka, Sungai Marobo, Sungai Nunura, dan Sungai Gleno. Sungai yang mengalir ke Utara dan bermuara ke Selat Wetar antara lin adalah Sungai Laklo, Sungai Lalela. Sungai yang mengalir ke Selatan dan bermuara ke Laut Timor adalah Sungai Tafara, Sungai Belukik, Sungai Dilor.
Danau dan Pulau
Daerah ini hanya memiliki sebuah danau yaitu Danau Surubel. Letaknya di ujung TImur wilayah ini dan termasuk Kabupaten Lautem. Selain wilayah daratan utamanya di Pulau Timor, Timor Timur juga memiliki wilayah kepulauan. Di antara pulau-pulau kecil yang termasuk wilayahnya adalah Pulau Atauro, Pulau Yako.
Iklim
Timor Timur beriklim tropis. Musim hujan mulai dari bulan November dan berakhir pada bulan April, sedangkan musim kemarau mulai dari bulan Mei dan berakhir pada bulan September. Meskipun demikian, terdapat pula beberapa perbedaan di antara pantai Utara dan pantai Selatan. Misalnya, di pantai Utara musim kemarau baru mulai pada bulan Juni, sedangkan di pantai Selatan musim hujan baru mulai pada bulan Desember, dan dari bulan Juni sampai Agustus juga berulang kali turun hujan. Selain dua musim utamanya, terdapat pula musim pancaroba, yang terjadi pada bulan Mei dan Oktober.
Curah hujan rata-ratanya rendah, yaitu sekitar 1.200–1.500 mm setahun. Jumlah hari hujannya mencapai sekitar 80–90 hari setahun. Suhu minimal berkisar antara 18°-21°C, sedangkan suhu maksimal berkisar antara 26°-32° C.
Flora dan Fauna
Kurang dari separuh wilayah ini tertutup oleh hutan. Dari hutan seluas 699.822 ha itu terdapat hutan suaka alam seluas 25.000 ha dan hutan wisata seluas 13.850 ha. Di hutan-hutan ini tumbuh berbagai jenis tanaman. Umumnya, yang tumbuh di daeerah pegunungan lebih bervariasi daripada di dataran rendah. Di pantai Utara terdapat hutan bakau yang lebat, sedangkan di pantai Selatan terdapat pohon lontar dan pohon kelapa yang tumbuh subur. Di hutan-hutan itu juga hidup sejumlah binatang liar. Binatang itu antara lain rusa, kera, musang, berbagai jenis serangga, nuri, kakaktua.
Penduduk
Pada tahun 1980, jumlah penduduk mencapai 555.000 jiwa. Kepadatan penduduk 38/km2. Pada tahun 1990, angka-angka ini mengalami perubahan. Jumlah penduduknya telah mencapai 748.000 jiwa dengan kepadatan penduduk 51/km2.
Suku Bangsa
Timor Timur didiami oleh beberapa suku bangsa di antaranya Tetun, Timor, Belu, Galo, Tokode, Bunak dan Kemak. Selain itu, terdapat pula orang-orang keturunan Eropa, China, Arab, dan India.
Agama
Hampir seluruh penduduk daerah ini beragama Kristen (94%) yang terdiri dari Katolik (91,4%) dan Protestan (2,6%). Yang lainnya adalah pemeluk agama Islam (1,7%), Hindu (0,3%) dan lain-lain (4%). Agama Katolik dibawa ke Timor Timur oleh para misionaris pada awal abad ke 16, bersamaan dengan masuknya bangsa Portugia.
Ekonomi
Andalan utama ekspor Timor Timur adalah kopi. Volumenya dapat mencapai lebih dari 90% ekspor tahunan Timor Timur. Meskipun demikian sector-sektor perekonomian lainnya juga mendapat perhatian cukup besar. Hal ini harus dilakukan karena kekuatan yang hanya berpijak pada satu komoditi dapat fatal akibatnya. Sektor-sektor itu adalah pertanian, perkebunan, kehutanan, Industri, pertambangan, perhubungan, dan pariwisata.
Pertanian
Tanaman pangan di daerah ini pada pokoknya dapat dibagi dua, yaitu padi dan palawija. Luas areal padi di wilayah ini mencapai 20.000 ha dengan produksi sekitar 5.000 ton per tahun. Luas area palawija mencapai 78.000 ha dengan produksi sekitar 220.000 ton per tahun.
Perkebunan
Komoditi perkebunan terpenting di Timor Timur adalah kopi. Tanaman kopi sudah dikenal di sini sejak zaman Portugis. Kopi Timor Timur pernah dikenal dengan nama Hibrida de Timor, termasuk salah satu jenis kopi terbaik di dunia. Produksi kopi di daerah ini sempat merosot ketika terjadi perang saudara yang mengakibatkan perkebunan kecil terabaikan karena keadaan keamanan tidak menjamin. Namun pada tahun-tahun berikutnya sector perkebunan mengalami kemajuan.
Kini areal perkebunan yangh paling luas adalah kelapa sekitar 50.000 ha dengan produksi sekitar 9.000 ton per tahun. Tanaman perkebunan lainnya adalah kopi seluas 50.000 ha, kemiri 4.000 ha, kayu manis 2.250 ha, kapuk 10.000 ha, dan pinang 36.600 ha.
Kehutanan
Timor Timur mempunyai areal hutan sekitar 700.000 ha. Hutan lindung seluas 435.000 ha, hutan produksi seluas 170.000 ha, hutan suaka alam 25.000 ha. Hasil utama dari sector kehutanan ini adalah kayu cendana, kayu putih, kayu merah.
 Peternakan
Daerah ini sangat potensial untuk pengembangan usaha peternakan secara besar-besaran. Padang rumput yang luas da[pat dijumpai di beberapa kabupaten seperti Ambenu, Bobonaro, Kovalima, Lautem. Secara keseluruhan areal padang rumputnya mencapai luas 394.503 ha. Jenis ternak yang ada yaitu sapi, kerbau, kuda, babi, kambing, domba, unggas.
Pertambangan
Menurut hasil penelitian peninggalan Portugis, barang tambang yang ada di Timor Timur meliputi minyak dan gas bumi, emas, mangan. Barang tambang lainnya yang berupa batuan adalah batu pasir dan serpih..
Industri

Kegiatan industri kebanyakan menyangkut pengolahan hasil pertanian dan barang kerajinan. Masalah utama yang dihadapi Timor Timur dalam mengembangkan industrinya yang baru adalah kurangnya tenaga terampikl dan langkanya modal.

Geografi Regional Laos

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Negara ini terdiri dari 4 kesatuan geografis yang utama, barisan pegunungan lipatan yang membujur dari Utara ke Selatan, lereng Barat Pegunungan Annam, Plato Bolovens, dan daerah lembah Sungai Mekong. Barisan pegunungan lipatan itu memiliki plato-plato yang terpotong-potong di Utara. Permukaannya kasar. Gunung phou Bia (2.820 m), puncak tertinggi di Laos terletak di daerah ini. Satu-satunya daerah yang agak rata adalah daerah Plato Xiangkhoang. Batu-batuan granit berbentuk kristal umum dijumpai di lereng-lereng Barat Pegunungan Annam, sedang barisan Pegunungan Batu Kapur menciptakan pemandangan alam yang khas, terutama di Laos Tengah. Plato Bolovens (1.500 m) di Selatan merupakan batu-batuan basalt. Lembah Sungai Mekong, yang sangat penting untuk pemukiman di Laos memiliki kantong-kantong lembah kecil, tapi hanya di tempat pertemuan anak-anak sungai dengan sungai yang lebih besar. Anak-anak sungai utama adalah Nam Ou, Nam Ngum, Nam Kading, dan Banghing. Sungai Mekong mengaliri seluruh Laos, hanya Propinsi Houphan dan sebagian Propinsi Xiangkhoang yang terletak di luar lembah Sungai Mekong dan dialiri oleh Sungai Nam Neun dan Sungai Nam Chu, yang selanjutnya mengalir melalui Vietnam sebelum bermuara ke Teluk Tonkin. Laos beriklim tropis dengan suhu rata-rata tahunan 26° C. Kebanyakan daerah menerima curah hujan 1.500 – 2.500 mm/tahun.
   Laos memiliki 3 musim:
1.      Musim hujan yang panas (Juni – Oktober)
2.      Musim kemarau yang sejuk (November – Februari)
3.      Musim pancaroba yang kering dan panas (Maret – Mei)
Dua pertiga lebih wilayah Laos tertutup oleh hutan subtropik. Daerah yang tinggi di Utara didominasi pohon-pohon pegunungan, sedang lereng-lereng yang lebih rendah di selatan didominasi oleh tumbuhan berdaun lebar yang senantiasa berganti daun. Di daerah-daerah yang kering, hutan berubah menjadi sabana dan padang rumput. Banyak hutan yang sudah hancur karena penduduk berpindah-pindah ladang.
Penduduk
Negeri ini mencakup wilayah seluas 236.000 km2 dengan penduduk 4.409.000. Penduduk Negara ini tergolong sangat jarang.
Sebagian besar (81%) penduduk negeri ini tinggal di pedesaan. Desa-desa umumnya berada di tengah sawah penduduk. Kota-kotanya sedikit dan kecil. Ibu kotanya Vientiane hanya berpenduduk 180.000 orang.
Bahasa resmi Negara ini adalah bahasa Lao yang mirip dengan bahasa orang Thailand. Banyak juga penduduk yang menggunakan bahasa Prancis. Para rahib Budha menggunakan bahasa Pali.
Dari 80% penduduk yang berusia di atas 15 tahun, hanya 80% bebas buta huruf. Penduduk Laos terdiri dari beberapa kelompok, yaitu orang Lao yang hidup di tanah rendah dan tepi sungai, orang Tai yang hidup di tanah tinggi, orang Mon-Khmer tersebar di seluruh Laos dan orang Meo dan Yao yang diperkirakan datang dari China Selatan pada akhir abad ke-18.
 Ekonomi
Pertanian merupakan kegiatan ekonomi utama di Laos dan mampu menyerap 72% tenaga kerja, namun Negara ini masih mengimpor beras dari Negara lain. Laos banyak mengekspor kayu ke negara-negara lain.
Perikanan tak memiliki arti komersial. Pusat-pusat penangkapan ikan terpenting adalah Vientiane, Pakxan, Savannakhet, Thakthet, dan Houayxay.
Laos sebenarnya kaya akan barang tambang, namun eksplorasinya masih jauh dari sempurna. Barang tambangnya antara lin timah, bijih besi, tembaga, batu bara, dan timah hitam.
Industri yang terorganisasi masih terbatas pada pabrik penggergajian kayu, semen, dan barang-barang konsumsi.
Sungai Mekong merupakan sarana transportasi utama di Laos walaupun arusnya deras dan sungainya dangkal. Laos tak memiliki jalan kereta api. Jalan rayanya sepanjang 27.000 km, tapi baru sepertiga yang telah diaspal. Kota-kota utama di Laos memiliki hubungan udara yang dilayani oleh perusahaan penerbangan Lao Airline.

Laos selalu mengalami ketidakstabilan politik selama beberapa tahun terakhir. Nilai impor Laos lebih besar 4 kali dari nilai ekspornya. Selama bertahun-tahun negeri ini mengalami ketidakstabilan politik dan pertikaian dalam negeri, maka 60% pendapatan nasional digunakan untuk pembangunan hankam. Akibatnya, Negara ini tak bisa membangun kerangka dasar.

Geografi Regional Kamboja

DESKRIPSI UMUM

Fisiografi
Kampuchea memiliki wilayah seluas 181.916 km, atau kira-kira seluas Pulau Sulawesi. Secara fisik, negeri ini menyerupai pining. Di bagian tengah terletak Dataran Besar Tonle Sap, bagian pinggirnya terbentuk oleh sejumlah pegunungan, Pegunungan Dong Rak *Phanon Dang Reh) di Utara, Pegunungan Cardamon di Barat, plato Rotanokiril, dan plato Mondol Kiri di Timur. Barisan pegunungan ini memiliki ketinggian 750 – 900 m. Gunung Phnum Aoral (1.771 m) di Pegunungan Cardamon merupakan puncak tertinggi di Kampuchea.
Danau Tonle Sap memiliki ciri-ciri geografis yang luas biasa. Air danau ini dialirkan oleh Sungai Tonic Sap, anak Sungai Mekong, yang biasanya meluap antara bulan Mei dan bulan Oktober. Dalam bulan-bulan ini, cabang-cabang Sungai Mekong di Vietnam bagian Selatan tidak mampu mengatasi luapan air dari daerah yang dilaluinya. Akibatnya, luapan air tersebut kembali ke Sungai Bassac dan Sungai Tonle Sap, hingga membanjiri daerah di sekitar danau. Pada puncaknya, banjir ini mampu melipatgandakan luas permukaan danau dari 3.000 km2 menjadi 10.000 km2 lebih. Gejala itu benar-benar penting artinya bagi perikanan darat Kampuchea.
Daerah pantai sepanjang 560 km di sepanjang Teluk Siam merupakan tanah berbatu-batu dan memiliki beberapa pulau lepas pantai yang kecil. Teluk Kampong Saom memiliki salah satu pelabuhan alam yang paling baik di Asia Tenggara dan menjadi satu-satunya pelabuhan berair dalam di republik ini. Dataran pantainya sebagian besar sempit dan terpotong-potong oleh Pegunungan Gajah (Pegunungan Elephant), yang membujur kea rah pantai.
Iklim
Kampuchea mengalami iklim tropis dengan musim kemarau pada bulan November – Mei, ketika negeri ini berada di bawah pengaruh angina musim Timur Laut. Dalam bulan Januari sebagian besar daerahnya menerima curah hujan kurang dari 50 mm. Dalam bulan-bulan selebihnya (Juni – Oktober), angina bertiup dari Laut. Banyaknya curah hujan tahunan di setiap tempat ditentukan oleh terbukanya daerah tersebut pada tiupan angina musim Barat Daya. Dengan demikian, Pegunungan Gajah dan Pegunungan Cardamon dapat menerima curh hujan sampai 3.050 mm per tahun. Sementara Dataran Besar Tonle Sap, yang terletak di daerah bayangan hujan, menerima curah hujan kurang dari 1.525 mm per tahun. Semakin ke Timur, semakin abertambah curah hujan tahunan secara keseluruhan, sementara ketinggian tanahnya juga terus bertambah. Plato-plato dapat menerima curah hujan sampai 2.540 mm per tahun.
Suhu rata-rata per tahun untuk sebagian besar wilayah Kampuchea mencapai sekitar 27° C dan pergeseran angka suhu jarang melebihi 8° C. Bulan Desember biasanya merupakan bulan paling dingin. Sementara musim kemarau terus berjalan, suhu meningkat sampai memuncak pada akhir bulan Mei.
 Flora dan Fauna
Tidak meratanya curah hujan tercermin dalam variasi tumbuh-tumbuhan alam di negeri ini. Di plato dan pegunungan yang memiliki curah hujan tinggi, terdapat hutan tropis yang hijau sepanjang tahun. Di daerah-daerah rendah yang lebih kering, hutan ini tiba-tiba berganti daun dan sabana yang di sana-sini ditumbuhi pepohonan. Di Battambang Barat Laut terdapat sabana yang di sana-sini ditumbuhi rerumputan, sementara bakau tumbuh di sepanjang pantai dan bamboo tumbuh di daerah-daerah yang lebih kering. Dataran aluvium Kampuchea memiliki berbagai tanaman, di antaranaya kelapa, karet, jeruk, kapuk, pisang, lath, tembakau, kapas, tebu, nila, dan sayur-sayuran.
Kehidupan binatang liar mencakup gajah, banteng, harimau, harimau kumbang, macan tutul, beruang, dan binatang buruan kecil. Burung yang paling lazim dijumpai adalah blekok, jejang, belibis, juao, merak, pelican, pecuk padi, kuntul, dan itik liar.
Penduduk
Penduduk negeri ini tergolong paling muda di dunia, 66% berada di bawah umur 30 tahun dan hanya sekitar 4% yang berumur lebih dari 60 tahun. Meskipun angka kematian cukup tinggi (diperkirakan mencapai 17,6 per 1.000 penduduk), laju pertambahan penduduk mencapai 1,9 persen per tahun.
Kepadatan penduduknya rendah (kira-kira 49/km2), kecuali di sepanjang jalur lalu lintas air, bahkan daerah-daerah yang sebenarnya dapat dibudidayakan sangat kekurangan penduduk. Kota terbesar, yaitu Ibu Kota Phnom Penh, diperkirakan hanya berpenduduk sekitar 800.000 jiwa.
Kelompok Etnik
Kelompok etnik utama di Kampuchea adalah orang Khmer, yang mencakup 94% penduduk negeri ini dengan mata pencaharian utama bertani. Tetapi bangsa Khmer modern sebenarnya merupakan keturunan berbagai ras yang sudah berbaur satu sama lain selama berabad-abad, bahkan sebelum nenek moyang mereka berpindah ke delta Mekong yang subur (Plato Korat, sekarang termasuk wilayah Thailand) sebelum tahun 200 SM. Masuknya orang India, yang berlangsung dalam beberapa gelombang pada awal Tarikh Masehi, menimbulkan Indianisasi bangsa Khmer. Dalam abad ke-8, bangsa Khmer diserbu orang Melayu (Jawa). Serbuan ini kemudian disusul oleh kedatangan orang Thai (dari abad ke-10 hingga abad ke-15), orang Vietnam (mulai dari abad ke-17), dan orang China (dalam abad ke-17 dan ke-19). Akibat pembauran, ciri-ciri fisik orang Khmer sangat bervariasi.
Selain kelompok mayoritas Khmer, di negeri ini terdapat kelompok minoritas China dan Vietnam. Orang China terutama hidup di kota sebagai pengusaha, sedang orang Vietnam umumnya bekerja sebagai buruh perkebunan karet, nelayan, tukang, atau pedagang.
Penduduk lain terutama terdiri dari beberapa kelompok etnik Asia lain, termasuk kelompok Melayu Cham (di Kampuchea dikenal sebagai orang Khmer Islam) dan suku-suku bangsa primitive yakni orang Khmer Loeu (disebut juga orang Khmer gunung), yang terdiri dari orang Jaral Rhade, Stieng, Kui, Pear, dan Saoch.
Pembauran antara orang Khmer dan Orang China telah berlangsung secara luas. Sedang perkawinan campuran dengan orang Vietnam jauh lebih sedikit akibat ketidak percayaan orang Khmer kepada kelompok tersebut, yang sudah berurat-berakar di kalangan mereka secara turun-temurun. Dengan orang Melayu Cham, pembauran mengalami hembatan karena kelompok ini mempertahankan agama Islam sementara kelompok etnik mayoritas Khmer umumnya beragama Budha.
Bahasa
Bahasa resmi dan bahasa yang paling lazim di Kampuchea adalah bahasa Khmer. Bahasa ini di samping agama dan tradisi orang Khmer, mengikat orang Khmer menjadi satu bangsa dan membuat Kampuchea menjadi Negara, yang boleh dikatakan stabil sebelum tahun-tahun peperangan.
Agama
Agama utama di Kampuchea adalah agama Budha Theravada, yang berasal dari India dan pernah manjadi agama resmi di Kampuchea. Ajaran agama ini telah begitu meresap dalam kehidupan orang Kampuchea.
Meskipun adat-istiadat, yang mengharuskan semua lelaki di negeri ini untuk masuk biara selama jangka waktu tertentu, sekarang sudah terdesak akibat perkembangan pendidikan sekuler. Di negeri ini terdapat puluhan ribu biarawan Budha yang hiduip dalam ribuan wat (kuil). Dua decade lalu, agama Budha dilarang oleh pemerintah Khmer Merah, tetapi rezim Heng Smrin yang berkuasa sejak akhir tahun 1978, konon telah memulihkannya. Di negeri ini sekitar 88% rakyat masih menganut agama Budha.
 Ekonomi
Ekonomi negeri ini bertumpu pada sector pertanian. Sektor ini menyerap sekitar 70% dan seluruh tenaga kerja, kendati tanah yang dibudidayakan hanya mencakup sekitar 17% dari seluruh wilayahnya.
Pertanian di Kampuchea didominasi oleh pertanian padi. Sebagian besar penduduk pedesaan hidup bertanam padi. Tanaman ini yang merupakan bahan pangan utama penduduk Negara ini, dibudidayakan terutama di daerah sepanjang Sungai Mekong dan di sekitar Danau Tonle Sap. Hingga tahun 1970 – an hasil pertanian negara ini mampu mencukupi kebutuhan penduduknya, bahkan sebagian diekspor ke negara lain, tetapi akhir-akhir ini hasil padi seluruhnya (kira-kira 2,4 juta ton per tahun) mengalami penurunan. Para petani sulit mendapatkan pupuk, bibit unggul, dan obat hama padi. Lagi pula, kemarau panjang sering terjadi di negeri ini. Sementara itu, sarana irigasi yang telah berhasil dibangun, banyak yang hancur atau terlantar karena perang. Akibatnya, Kampuchea yang dulu mampu mengekspor beras, kini justru harus bergantung pada bantuan pangan luar negeri (sekitar 150.000 ton per tahun). Menghadapi kekurangan pangan di negeri ini ratusan penduduk mengungsi ke Thailand atau tinggal menunggu bantuan pangan yang disalurkan badan PBB dan organisasi internasional lainnya.
Plato-plato bertanah basal di propinsi Kampong Cham dan propinsi Rotanokinli sebenarnya sangat cocok untuk pembudidayaan karet. Dulu Kampuchea termasuk Negara penghasil karet terbesar di dunia. Tetapi kini produksinya sudah jauh menurun. Pada tahun 1990, misalnya negeri ini hanya mampu menghasilkan sekitar 29.000 ton. Komoditas pertanian lain yang dihasilkan dalam jumlah terbatas, antara lain umbi-umbian, jagung, buncis, dan tembakau.
Kampuchea tidak memiliki industri besar. Dari sejumlah industri kecil yang ada di negeri ini hanya beberapa jenis yang pantas disebut, yakni industri semen, industri daging, industri kayu, dan industri rokok. Perang yang berkepanjangan menghancurkan perindustrian negeri ini. Kurangnya tenaga kerja yang terampil, bahan mentah industri, dan suku cadang, menyebabkan produksi pabrik-pabrik pemerintah jauh di bawah kapasitas yang sebenarnya. Sementara itu, situasi dalam negeri yang belum pulih akibat perang itu menyebabkan Negara-negara dan para investor asing dengan menanamkan modal di negeri ini.
Akibat peperangan itu juga, Kampuchea menderita deficit perdagangan yang luas biasa besarnya. Nilai impornya lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspornya.

Lalu lintas air di daerah pedalaman Kampuchea merupakan tambahan yang sangat penting bagi jalan raya negeri ini yang panjangnya mencapai 14.000 km lebih, namun baru sekitar 18% yang sudah diaspal. Jalan kereta api, dengan panjang sekitar 650 km, menghubungkan Phnom Penh dengan Poipet di daerah perbatasan Thailand dan dengan Kampong Saom. Bandar udara Pochentong (dekat Phnom Penh) dapat didarati pesawat jet. Perusahaan penerbangan nasionalnya melayani hubungan udara dengan Hongkong dan berbagai kota di Asia Tenggara.